DUA MAHASISWA ITS JUARA DI HARVARD

Keadaan lingkungan telah menjadi isu global yang hampir semua negara di dunia telah mengkampanyekan untuk dapat menanggulangi bersama. Salah satunya dunia pertanian dunia yang pada waktu sekarang untuk dapat meningkatkan hasil panen banyak petani yang menggunakan pupu non-organik. Dampaknya tanah tidak memiliki sistem perimbangan untuk dapat memberikan hasil yang akan baik pada masa selanjutnya. Akibat ini masih sedikit diketahui oleh masyarakat bahwa pupuk tersebut akan membuat tanah menjadi tercemar.

Melihat keadaan tersebut dua mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS), Aditya Brahmana (mahasiswa jurusan Teknik Informatika) dan Yabes David Losong (mahasiswa jurusan Teknik Mesin) membuat pupuk vermikompos yang berbahan dasar cacing dan kotoran hewan. Pupuk ini sebagai upaya membantu petani dan peternak digunakan di di Desa Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sebagai upaya membantu petani dan peternak. “Hasilnya sangat baik dan membuat kompisisi tanah dan sangat membantu petani pada waktu kemarau,” tutur Yabes.

Melihat keberhasilan ini, Yabes dan Adiyta membawa proyek ini ke Harvard untuk di presentasikan di Harvard National Model United Nations (HNMUN) pada bulan Februari 2015 lalu. HNMUN adalah ajang simulasi sidang PBB yang diselenggarakan organisasi perhimpunan negara-negara di dunia itu Universitas Harvard. Kompetisi itu diikuti 3.000 mahasiswa dari 70 negara di dunia.

Dalam ajang ini Yabes dan Aditya merebut gelar The Best Social Venture Challenge. Gelar tersebut diberikan terhadap kelompok yang dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Adit dengan Yabes dengan membantu meningkatkan kehidupan pertanian dan peternakan masyarakat.

Sedangkan mekanisme pertandingan itu dimana para kontingan menjadi representasi dari suatu negara. Negara itu dinilai keaktifannya dalam berdiplomasi dengan negara lain untuk memberikan resolusi terhadap permasalahan dunia yang sedang terjadi. Dalam kesempatan ini tim dari Aditya mewakili negara Tanzania.

Kemudian dalam ajang ini, sebenarnya Indonesia diwakili oleh 3 tim namun hanya satu tim yang mendapat gelar juara. Sedangkan dua tim yang lain sebenarnya mampu melaju hingga babak final, tapi mereka tidak menyabet gelar. Akan tetapi apa yang telah mereka lakukan sebagai bukti nyata bahwa anak teknik dapat berguna untuk bidang sosial yang dipadukan dengan teknik. (viva)

 

Leave a Reply