Sang Penyelamat Domain (.id): Budi Rahardjo ITB

save image..budi

save image..budi

Tampak dari dekat sosok yang berbeda berada di kampus ITB dengan gaya yang nyentrik seperti seniman pada umumnya.  Dimana ia menggunakan kaos berkerah, celana jins dan sepatu hiking yang sering menemanianya dalam rutinitasnya sehari – hari. Namun siapa sangka ia tercatat sebagai dosen IT yang namanya sangat familiar di dunia industri teknologi informasi. Bahkan banyak orang yang menyebutnya sebagai selebriti dunia IT yang banyak memiliki pengaruh terhadap perkembangan teknologi informasi Indonesia. Namanya adalah Budi Rahardjo yang lahir 20 Oktober 1962 dan tumbuh kembang di kota pelajar yaitu Yogyakarta.

Selanjuntya ia melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di ITB dengan mengambil jurusan teknik elektro dari tahun 1981 – 1986. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan ke  University of Manitoba Kanada pada tahun 1987 – 1990 dengan mengambil fokus electro biomedical engineering. Sedangkan untuk progam Phd ia mengambil jurusan mikroelektronika dalam kurun 1991 – 1997 dan kurang lebih selama 11 tahun  dihabiskan waktunya di luar negeri untuk belajar.

Ketika membicarakan prestasi yang telah dicapai oleh Budi sudah menjadi bukti bila totalitasnya dalam dunia internet itu begitu besar sekali terutama untuk Indonesia. Hal ini yang ia lakukan sewaktu mengambil alih domain (.id) yang sebelumnya akan dikembalikan pada lembaga Internet Assigned Numbers Authority (IANA). Sebab pada waktu itu pengelolanya pak  Samik (Rahmat M. Samik Ibrahim, dosen Universitas Indonesia) sudah tidak mau lagi mengelola domain tersebut. “Alasannya domain itu karena bertentangan dengan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia),” ujar Budi.

Kemudian mengetahaui hal itu ia segera menghubungi pak Samik untuk dapat mengelola domain (.id). Karena pada waktu itu perusahaan besar telekomunikasi Indonesia pada menolak untuk mau mengurusinya. Kabar ini sangat menggemparkan dunia internet Indonesia yang mengetahui kesimpang siuaran yang akan mengelola domain (.id) tersebut.

ff

Lantas setelah Budi mendapatkan hak untuk dapat mengelola, ia pun membentuk sistem domain .id. Caranya dengan membuat komunitas yang mau saling membantu dan ini tidak dibayar satu persen pun. Sebab pada waktu itu bagi pemerintah Indonesia domain id itu bukanlah hal yang penting.

Setelah terjadi perbaikan yang sangat signifikan oleh Budi dan timnya akhirnya domain (.id) sudah dapat digunakan dengan baik. Namun muncul masalah baru, dimana berkembang masalah keamanan internet Indonesia yang sangat mengkhawatirkan. Sebab pada waktu itu banyak orang Indonesia yang mengeluh kepadanya karena komputernya banyak terserang virus atau di- hack.

“Baru ada masalah , mereka mencari siapa yang mengelola domain tersebut. Selanjutnya saya bikin badan khusus yang mengelola keamanan IT tersendiri untuk dapat mencegah terjadinya hal yang sama, “ tutur Budi. Tambahnya ia kemudian membuat  ID-CERT (Indonesia Computer Emergency Response Team) pada 1998 untuk dapat menanggulangi masalah tersebut.

Pasca pembuatan badan security IT tersebut ia melihat celah pasar yang besar di Indonesia untuk industri teknologi informasi. rencana ini kemudian ia realisasikan dengan membuat beberapa perusahaan di bidang IT. Misalnya saja  PJTKI khusus tenaga IT untuk kebutuhan luar negeri, konsultan IT Indo Cisc dan lain sebagainya.

Namun dari beberapa perusahaan yang telah ia dirikan sekarang ini hanya tinggal dua perusahan yang masih berjalan yaitu Indo Cisc dan  music digital Insan Music Store. Ini disebakan dengan tidak adanya fokus dalam menjalankan usaha teknologi informasi. Tapi dengan kegagalan itu malah membuatnya banyak dilirik oleh investor untuk mengajak berkerjasama dalam membuat inovasi baru (jawapos.com).

Leave a Reply