Eloknya Kupu – Kupu di Lereng Gunung Betung

kupu2

Beterbangan dengan keindahan dan keanggunan anatominya membuat pandangan mata terbelalak dan kagum akan ciptaan tuhan yang begitu mempesona, warna warni tercoret ditubuh mungilnya seakan menjadi ikon kemegahannya. Kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis merupakan bukti keberlangsungan pemancar keindahan kupu kupu, bahkan spesies yang hampir punah sekalipun masih dapat dijumpai di tempat yang masih terbilang kawasan Bandar Lampung ini.

Pentingnya memelihara sebuah keindahan maka DR. Herawati Soekardi melalui buah pikiranya menggagas dan membuat taman kupu kupu yang diberi nama Taman Kupu Kupu Gita Persada dengan konsep pengayaan habitat. Sebagian lahan seluas 4,8 hektar yang terletak 460 M di atas permukaan laut itu merupakan hutan raya, yang dapat dijumpai spesies Triodes Helena, jenis kupu kupu yang mempunyai ukuran yang besar dan berwarna hitam bercorak kuning menyala, dan Graphium Agamemnon, kupu kupu bersayap hitam dan berperut merah. Bahkan, famili papilionidae, yang menyuguhkan warna warna yang menarik seperti hijau, kuning, merah dengan kombinasi putih dan hitam, juga ikut meramaikan dan menghiasi Taman Gita Persada.

Segarnya melihat dan menyaksikan keluguan Papilio Pemnon ketika sedang mengisap nektar bunga asoka untuk menambah energinya, kemudian ia beterbangan seakan tiada batas di taman yang menjadi rumah idamannya. Begitu seterusnya ia beraktivitas bersama kawanan lainnya. Beberapa jenis lainnya yang unik dan diakui sebagai penghias asia yaitu Pachliopta Aristolochiae atau kupu kupu perut merah, Papilio Peranthus atau kupu hijau, dan Papilio demoleus yang menebarkan keindahan sayapnya.

kupu

Taman ini dibuat dengan tujuan sebagai obyek rekreasi sekaligus sarana belajar, orang dapat berkunjung dan menikmati keindahan berbagai spesies kupu Рkupu di taman ini, sekaligus menghilangkan kepenatan  dan kejenuhan kepala akibat bekerja seharian. Taman Gita Persada juga bisa digunakan sebagai sarana belajar bagi anak anak maupun orang dewasa dalam melindungi serta melestarikan keanekaragaman hayati dan menjaga keindahan lingkungan agar tetap asri dan alami. Dan disitu pula orang dapat belajar berbagai spesies kupu Рkupu dari keturunan berbagai famili yang menciri khas pada warna sayapnya.

 

Kupu kupu yang ada di taman percontohan dalam kota tersebut merupakan hasil dari konservasi yang dilakukan dengan cara menangkarkan dan melepaskan sebagian hasilnya kealam bebas. Taman kupu kupu Gita Persada didirikan pada 1997 sebagai salah satu wujud program konesrvasi lingkungan Yayasan Sahabat Alam dengan tujuan mulia melindungi kupu kupu Sumatera. Bahwa tanah yang digunakan untuk taman kupu ini sebagai bentuk pinjaman dari Marzuki Usman (Menteri pariwisata, seni dan budaya, 1997) sebagai penghargaan atas jasanya mengembangkan kepariwisataan lampung. Ketika itu kondisinya sangat tidak terawat dan rusak akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan. Dengan usahannya, Ibu Herawati merimbuni tanah itu dengan tanaman untuk mengundang kupu kupu.

Penelitian dan survei secara intensif terhadap spesies kupu – kupu yang hidup di Gunung Betung dilakukan dengan sangat teliti, sehingga ia mampu menciptakan mikro habitat bagi kupu kupu, dan juga memindahkan serta menyediakan pakan larva yang sesuai untuk kupu kupu yang hidup di gunung tersebut agar suatu saat nanti kupu kupu akan berdatangan dan menyantapnya. Upaya yang dilakukan oleh Ibu Herawati didukung penuh oleh suaminya dan anak anaknya yang mencintai kupu – kupu.

Tiga tahun pertama, yaitu Juni 1999-2001, tanah tersebut berhasil ditanami 25 spesies tumbuhan inang, antara lain tanaman rotase (jeruk-jerukan) yang disukai oleh kupu kupu jenis Papilionidae, muraya (semak), sirsak, alpukat, Aristolochia Tagala (tanama perepok), Clausena Excavate dan tumbuhan berbunga penghasil nektar, seperti lasoka, lantana, jarong, kaliandra, kamboja jepang, Clerodendrum Paniculatum (Bunga pagoda), dan lain lain. Seperti halnya dalam mendapati Papilio Peranthus, ia menanam 1000 gambir di polybag. Ia juga harus menananm atau menstek buah nona, bunga cempaka dan sirih hutan untuk menghasilkan graphium. Menurutnya, dengan menyediakan banyak makanan, kupu kupu menjadi terlindung.

Upaya yang dilakukan Herawati dalam membuat habitat mikro ini menghasilkan manfaat bagi keberagaman kupu kupu Sumatera, ia menyuplai pakan larva yang mampu mengundang kupu kupu untuk tinggal di tamannya. Bagai semut yang berdatangan karena mencium gula, maka kupu kupu ini mulai berbondong mengambil dan menyadap nektar di tamannya, kesempatan ini dimanfaatkan oleh dia untuk meneliti berbagai spesies kupu Sumatera. Selain digunakan sebagai tempat penelitian bagi sarjana sarjana muda, tempat ini juga di gunakan untuk sarana pembelajaran bagi anak sekolahan untuk mengetahui berbagai spesies sekaligus mengajarkan kepada anak untuk ikut berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan terutama lingkungan tempat tinggalnya. Dan sampai saat ini wisata taman kupu kupu Gita Persada masih banyak dikunjungi wisatawan sebagai ikon turisme dibandar Lampun (Magazine of Garuda). Penulis: Abdulloh Yahya

Leave a Reply