Hindarilah 4 Hal ini Terhadap Anak-Anak

anak-lucu

Anak-anak sebagai generasi yang akan menggantikan kita dimasa depan. Oleh sebab itu keberadaan anak begitu sangat penting dan dalam berbagai penelitian bahwa baik dan buruknya anak itu tergantung bagaimana keluarga dalam mendidiknya. Hal ini masih sangat sedikit yang memahaminya, karena banyak orang tua yang kurang mendalami untuk mendidik anak yang baik. Apalagi ditambah dengan kesibukan orang tua yang semakin padat sekarang ini, untuk dapat memenuhi kebuthan hidup yang semakin komplek dan menuntut mereka harus bekerja keras.

Oleh sebab itu mendidik anak itu bukan hanya pemenuhan kebutuhan material, namun juga hal-hal yang diluar itu. Misalnya saja dengan bagaiamana kedua orang tua dalam berkomunikasi dalam keseharian di keluarga. Karena anak itu akan mengikuti gaya bicara, sikap dan nilai-nilai apa saja yang ditanamkan dalam keseharian. Kalau menurut seoang Filsuf Inggris Jhon Lock anak yang lahir di dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong dan belum di tulis atau lebih dikenal dengan istilah “tabularasa” (blank sheet of paper).

Dari itu dapat kita pahami bahwa anak itu sangat dipengaruhi  oleh pemberi pengetahuan dalam lingkup keluarga. Maka ada beberapa hal yang dilarang oleh orang tua dalam keluarga mislanya empat hal ini:

  1. Jangan menangis

Variasi kalimat yang lain: “Jangan sedih.” “Jangan cengeng.” “Jangan takut.” Tapi anak-anak balita saat marah, takut, kesal pun menangis. Mereka tidak bisa selalu mengartikulasikan perasaan mereka dengan kata-kata. “Hal yang sangat wajar bagi orang tua ingin melindungi anak dari perasaan seperti itu,” kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur, Family Support Services di Mailman Segal Institute for Early Childhood Studies, Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, AS. “Tapi mengatakan jangan tidak membuat anak merasa lebih baik, dan dapat juga mengirim pesan bahwa emosinya sesuatu yang terlarang.”

Sebagai gantinya Anda bisa mengatakan, “Kamu sedih tidak diajak bermain oleh Bayu?” atau “Kamu marah mainanmu direbut?” Dengan menamai perasaan, anak Anda akan belajar memberinya kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Sekaligus tanpa sadar mengajarkannya buat berempati. Pada akhirnya, dia akan menangis lebih sedikit dan menggambarkan emosinya sebagai gantinya.

  1. Coba contoh kakakmu/adikmu”

Mungkin tampak membantu jika anak Anda dapat melihat contoh nyata dari saudara kandungnya atau teman. “Rara pintar yah, bisa pake sepatu sendiri.” Anak-anak berkembang dengan fasenya sendiri. Membandingkan anak Anda kepada orang lain menyiratkan bahwa Anda tak menginginkannya serta merusak kepercayaan dirinya. Sebaliknya, dorong prestasi dia saat ini: “Wow, kamu mencuci tangan sebelum makan tanpa mama minta, hebat!” Ingat membandingkan dengan saudaranya hanya akan memicu kekesalan dan membakar perasaan iri. Jangan heran kalau Anda justru dibuat pusing dengan pertengkaran mereka tiap hari.

  1. “Berhenti atau mama pukul!”

Dalam mendisiplinkan anak, ancaman itu jarang efektif. Anda mengancam dengan peringatan seperti “Ayo berani ulangi lagi, Mama pukul!” Cepat atau lambat anak akan belajar bahwa ancaman itu tak pernah terjadi. Akhirnya ancaman Anda kehilangan kekuatannya. Lebih buruk lagi justru membuat Anda tambah frustasi, akhirnya malah memukul. Akan lebih efektif  jika melakukan pengalihan. Caranya  dengan membawa anak pergi dari situasi tersebut.

Misalnya, ia mengamuk di toko mainan karena tidak diturutin kemauannya. Daripada Anda bereaksi dengan membentak, mengancam, melotot, langsung saja ambil tindakan dengan menggendong anak Anda keluar dari toko, bawa ke tempat lain, lakukan time out setelah tenang beri pengertian. Cara ini terbukti lebih efektif.

  1. “Tunggu sampai Ayah pulang!”

Pengasuhan tipe ini adalah jenis lain dari tipe mengancam. Seperti halnya mengancam, cara  ini tidak efektif. Bila Anda ingin pesan Anda sampai pada anak, disiplin harus dilakukan saat itu juga, bukan nanti. Saat anak Anda berulah, bersikap tidak baik, langsung beri konsekunsinya. Disiplin yang ditunda tidak mengajarkan konsekuensi tindakan salah pada anak. Kemungkinan besar yang terjadi saat si ayah pulang, anak Anda sudah lupa kejadian yang tadi. Akibat buruk lainnya, bila ini sering Anda lakukan, Anda akan kehilangan otoritas di mata anak Anda.

Sumber: dechacare.com

Leave a Reply