Juara Dunia Fisika dari Papua

septinus

Siapa bilang dengan keadaan yang minim seorang itu dapat menghalanginya menggapai prestasi tinggi. Inilah yang telah dibuktikan oleh Septinus George Saa, anak muda kelahiran Manokwari pada 22 September 1986. Dia telah membuktikan dengan kemauan yang kuat dan konsisten dalam mengusahakannya telah membuatnya dapat mendali emas dan mendapat penghargaan First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Indonesia.

Pada ajang yang di ikutinya itu, dia membawakan sebuah tulisan ilmiah yang berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resisto. Dalam makalah ini dia menggunakan rumus penghitung hambatan antara dua titik rangkaian resistor yang ditemukannnya. Dengan menemukan rumus ini telah mampu menghantarkannya mendapat First Step to Nobel Prize in Physic yang dapat mengungguli peserta lain dari 73 negara  dunia.

Penghargaan ini telah membuktikan pada dunia, bila orang Indonesia mampu mecapai penghargaan yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan. Namun perlu diketahui keberhasilan yang dicapai oleh Septinus bukanlah kebetulan saja. Karena dia telah merintis lama dengan menekuni dunia Fisika sejak SMP, meskipun baru ketika masuk sekolah menengah atas dia mendapat fasilitas yang baik untuk dapat memenuhi rasa kehausannya dalam bidang ilmu pengetahuan.

Disisi lain sewaktu SD dan SMP, Septinus sering bolos sekolah. Karena pada waktu itu dia tidak memiliki uang saku untuk dapat membayar kendaraan umum yang sekali jalan Rp. 1.500 dan dua kali jalan menjadi Rp. 3.000. Namun hal ini, tidak menjadi kendala besar pada dirinya untuk terus belajar dengan keadaan yang tidak mendukung pada waktu itu. Sehingga ketika dia dapat masuk sekolah unggulan di SMA 3 Bumi Perkemahan Jayapura yang mendapat fasilitas lengkap, maka dia dapat menunjukan bakat terpendam yang selama ini ada dalam dirinya.

Kemudian setelah mengikuti lomba dan lulus SMA dia melanjutkan pendidikan di Florida Institute of Technology jurusan Aerospace Engineering. Sebuah kampus pesisir timur Amerika di Brevard County. Dimana kampus ini berada dekat sekali dengan Kennedy Space Center dan tempat peluncuran pesawat NASA (National Aeronautics and Space Administration.

Pemilihan jurusuan ini dilatar belakangi oleh kegagalannya menjadi seorang pilot pesawat terbang. Sebab kondisi matanya yang minus 3,25, yang mengakibatkan dia harus mengubur cita-cita menjadi pilot. Namun dia bertekad diri untuk pembuat pesawat, meskpiun tidak bisa menjadi pilot.

Pada waktu sekarang dia bekerja di perusahaan migas internasional. Selanjutnya dia akan mengabdikan ilmu yang telah dimilikinya untuk perkembangan dunia dirgantara Indonesia. sebagai kecintaanya kepada bangsa yang telah mampu membawanya mencapai prestasi dunia.

Sumber: kabar.tv

Leave a Reply