Sedapnya, Kaldu Kokot Madura

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Sepanjang perjalanan menyusuri pulau Madura, belum ada makanan yang menggoda selera. Karena hampir semua makanan yang di jajakan juga ada di kota-kota besar di Jawa Timur. Seperti rujak, soto ayam, rawon, bebek goreng dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya bukanlah hal yang asing, hingga pada sebuah tempat makan atau tepatnya depot terdapat sesuatu yang menggoda selera. Tak kala mata memandang di daftar menu yang disajikan di warung ini ada sebuah nama makanan kaldu kokot Madura.

Setelah memasuki depot itu, saya memesan satu porsi kaldu kokot yang dari namanya sangat asing dan beda dengan apa yang dijajakan warung lain. Tak berselang lama pesanan sudah berada di meja, dan mata saya tertegun ketika pertama kali melihat makanan ini. Kemudian saya berpikir makanan ini memiliki cita rasa yang tinggi khas nusantara.

Kaldu ini adalah makanan khas Madura, yang terkenal khususnya daerah Sumenep, Pamekasan dan sebagian Sampang. Saya berpikir kalau kaldu itu adalah air rebusan dari ayam maupun daging saja. Namun di Madura, kaldu tak sekedar air rebusan, kaldu merupakan sajian makanan komplit yang sudah siap santap, seperti Rawon atau Soto.

Bentuknya seperti soto atau sop. Bedanya, kalau soto dan sop biasanya menggunakan daging yang sudah dipotong-potong, Kaldu Kokot Madura mengunakan kikil yang berasal dari kaki sapi. Plus beserta tulang-tulangnya yang besar sekali.

Kokot dalam istilah Madura berarti telapak kaki hewan mamalia, seperti kambing dan sapi. Kaldu kokot menggunakan bahan bumbu seperti sup atau soto kalau di Jawa, yakni bawang merah, bawang putih, jahe, pala dan daun bawang yang seluruhnya dimasak sebelum dimasukkan ke dalam kuah kaldu. Yang membedakan hanya pada bahan dagingnya saja.

Di Sampang, saya mampir ke Depot Ghozali yang telah menjual Kaldu Kokot selama 40 tahun. Depot ini semacam legenda di kota Sampang. Saya bertemu dengan Bu Nur Hasanah, pemilik warung dan bertanya soal Kokot. Ia mengatakan bahwa warung ini awalnya didirikan oleh Ibunya. Selama 40 tahun mengalami naik turun, tapi terus berkembang. Selama ini minimal ia bisa menjual lebih dari 20 kaki sapi setiap hari, atau sekitar 80 porsi. Kalau sedang banyak pesanan, ia bisa melayani hingga ratusan.

Satu porsi kaldu sumsum super dihargai dengan Rp. 30. 000 sudah dengan nasi. Dan bagi pengunjung yang ingin membawakan oleh-oleh untuk sanak keluarga atau kawan tidak perlu kawatir bagaiaman membawanya. Karena depot Ghozali akan memberikan wadah khusus agar kaldu sumsum awet dengan toples krupuk plastik. Ini akan memberikan garansi cita rasa yang akan sama dirasakan meskipun di bawa ke perjalanan yang cukup jauh.

Sumber: junantoherdiawan.com dan jawatimuran.wordpress.com

 

 

 

 

Leave a Reply