SANG PENDOBRAK SEJARAH INDONESIA: Prof Dr A Sartono Kartodirdjo

kartono

kartono

Kesederhanaan tampak dari sikap dan perilaku pria ini, yang banyak menginspirasi bagi murid-muridnya. Seperti yang pernah dikemukakan oleh murid dan sekaligus kawan yaitu Prof. Dr. Koento Wijoyo, bahwa Prof Dr. A Sartono Kartodirjo adalah orang-orang yang besar dalam pendidikan barat, namun sangat Indonesia. Hal ini tampak dari sikap dan kedisiplinan dia dalam keseharian yang giat dan tekun dalam bekerja. Sehingga banyak anak didik yang menjadikan dia sebagai tokoh inspiratif dan panutan dalam menentukan arah dan sikap kehidupan.

Sartono dilahirkan Selasa, 15 Februari 1921 di kabupaten Wonogiri dalam keluarga yang sangat religius, ditambah lagi mendapatkan pendidikan HIS, MULO, dan HIK atau yang lebih dikenal dengan sekolah calon bruder. Menurut penuturannya kepribadiannya dibentuk sewaktu dalam lingkungan yang menuntut kedisiplinan tinggi dengan segudang aktivitas yang harus dipenuhi dalam keseharian. Mengakibatkan karakter-karakter orang barat itu sangat memenuhi kepribadiannya.

Selepas dari sekolah bruder, dia tidak meneruskan untuk menjadi bruder tapi lebih memilih untuk menjadi seorang guru di Jakarta. Sambil menjadi guru dia juga melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan selesai pada tahun 1956. Tiga tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1959, dia menjadi dosen UGM dan FKIP Bandung.

Kemudian untuk menambah ilmu yang lebih dan tuntutan akan akademik, dia melanjutkan pendidikan ke Amerika. Disana dia kuliah di Universitas Yale, dengan mengambil jurusan sejarah dan selesai pada tahun 1964. Dan sebagai dosen pembimbingnya itu Prof.Hary J. Benda yang menjadi salah seorang staf ahli presiden. Tak selang lama dia mendapat rekomendasi untuk langsung melanjutkan pendidikan Doktor di Universitas Amsterdam.

Dengan hanya waktu dua tahun dia dapat menyelesaikan pendidiakn doktornya. Di bawah bimbingan Prof. Wertheim dari Departemen of Sociology and Modern History of Southeast Asia. Dan desertasi yang ditulis berjudul “The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia” (Pemberontakan Petani Banten 1888). Tulisan ini sebagai pijakan dalam penulisan sejarah Indonesia yang lebih maju. Sebab baru pertama orang Indonesia menulis sejarah orang kecil untuk diangakat ke permukaan sebagai sebuah sejarah nasional.

sartono

Penulisan desertasi ini adalah bentuk kegelisahannya akan sejarah Indonesia yang banyak ditulis dari sudut pandang orang barat atau biasa disebut dengan Neerlandosentris. Sartono menggunakan social scientific approach, memberikan cahaya terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesiasentris. Hal ini menjadikan karya yang di ukir oleh dia menjadi sebuah acuan dalam perkembangan penulisan sejarah.

Selain itu, dia dikenal juga sebagai sejarawan yang memberikan dorongan untuk banyak menulis sejarah nasional. Dan dia juga mengenalkan pendekatan multidimensi dalam penulisan sejarah. Karena peran sejarah sebagai titik pijakan untuk dapat melihat masa lalu dengan menyongsong masa depan arah bangsa.

Dan sepanjang hayatnya dia banyak menghasilkan karya, baik berupa buku atau tulisan di media massa dan jurnal. Misalnya saja “Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif”, “Masyarakat Kuno dan Kelompok-Kelompok Sosial”, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 ; Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid 1”. dan “Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah”. Itu hanya sebagian kecil dari banyak karya yang telah dia persembahkan untuk perkembangan sejarah Indonesia.

Kemampuannya ini tidak hanya dikenal  dan diakui di ranah ilmuwan Indonesia, tapi juga dunia. Ini terbukti dengan dipercayanya dia menjabat sebagai kordinator nasional UNESCO dan peneliti ahli di Institute of South East Asian Studies, Singapura. Gambaran ini hanyaalah segelintir hal yang ada dalam diri seorang Kartono. Dan pada jumat 7 Desember tahun 2007 dia harus pergi selama-lamanya, namun namanya dan prestasinya masih akan dikenang sepanjang masa.

Sumber: tokohindonesia.com dan merdeka.com

Leave a Reply