Penemu Listrik Tenaga Gelombang Laut; Zamrisyaf

antarafoto-Uji-Listrik-Sistem-Bandulan-230314-Ief-1

Persoalan listrik itu sangat penting bagi penunjang kegitan manusia modern, karena hampir semua aktivitas membutuhkan listrik. Melihat hal ini, sangat merisaukan karena banyak hal yang terhambat karena energi listrik itu belum ada. Kelangkaan listrik juga di alami di Padang pada waktu yang lalu dan hal ini, menjadi keresahan seorang pria yang bernama Zamrisyaf. Dia kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 19 September 1958 dan sekarang berumur 56 tahun. Dan pendidikan terakhir yang dia capainya itu hanya sekolah tinggi menengah di Muhamadiyah Padang.

Kemudian berangkat dari keresahan yang terbenam dalam hati, dia mencoba melakukan berbagai percobaaan untuk dapat membuat sumber listrik agar kampungnya bisa memiliki listrik. Dengan usaha yang dilakukannya itu, akhirnya dia berhasil menemukan gelombang air laut menjadi sumber listrik. Tapi sebelum menemukan gelombang itu dia sudah melakukan berbagai percobaaan seperti membuat baling-baling sebagai pembangkit listrik.

Selanjuntnya bagaimana dia bisa menemukan gelombang air laut bisa menjadi sumber energi listrik. Ceritnya begini, pada suatu waktu Zamrisyaf sedang menaiki kapal untuk mengarungi Selat Mentawai dan bagi penumpang harus berpegangan agar tidak terhempas dari kapal ke laut. Dan keadaan ini menjadi sebuah pertanyaan dalam benak hatinya, bukankah gelombang laut ini bisa menjadi energi listirk? Yang akan sangat bermanfaat.

Namun dia masih bingung harus bagaimana untuk dapat memanfaatkan energi gelombang itu. Sehingga pada saat dia sedang melakukan perjalanan dari Pelabuhan Teluk Buya ke Tanjung Priuk Jakarta dan cuaca badai sangat besar, hingga lonceng kapal bisa bergerak-gerak. Mengetahui hal itu, dia lalu mempunyai ide untuk membuat desain pembangkit listirk tenaga gelombang sistem bandulan (PLTG-SB) yang kemudian di patenkan dengan No.  P00200200854.

Pembangkit listrik ini, dapat menerangi 40.000 rumah yang sederhana dengan syarat luas areal lautan lebih 1 KM. PLTG ini sangat banyak membantu untuk wilayah kepulauan yang sangat sulit untuk mendapat listrik. Sedangkan modal yang dibutuhkan untuk dapat membuat sebuah pembangkit yang besar membutuhkan biayaya sekitar Rp 400 miliar, dengan hitung-hitungan Rp 20 juta untuk setiap Killowat (Kw). Modal yang cukup besar itu hampir sama dengan pembangunan pembangkit listrik PLTA atau PLTU.

Akan tetapi penemuannya ini tidak segera direspon oleh pemerintah, sehinga dia pergi merantau ke-Malaysia. Alasannya dia pergi, karena malu dengan masyarakat sekitar yang belum dapat memanfaatkan hasil temuaannya itu. Namun pada tahun 1983 dia mendapat surat dari ibunya untuk pulang, karena dia mendapat penghargaan Kalpataru dari menteri lingkungan hidup.

Penghargaan ini menjadi titik balik dalam kehidupannya yang kemudian mengantarkan dia untuk bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dan dia langsung mendapat proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Sumbar-Riau. Kesempatan ini tidak di sia-siakannya untuk dapat menimba ilmu secara langsaung dari para ahli yang ada di PLN dan untuk menyempurnakan penemuannya.

Namun hingga sekarang penemuan ini belum dapat terealisasi dan mandek di tempat. Karena berbagai persoalan yang dan hambatan mengakibatkan PLTB belum dapat dirasakan oleh masyrakat. Ini sungguh sangat memilukan dengan apa yang telah di kerjakan oleh Zamrisyaf selama ini.

Sumber: jppn.com, indonesiaproud.wordpress.com dan teknologi.kompasiana.com

Leave a Reply