Karapan Sapi, Celurit, hingga Pulau Seribu Masjid

karapan sapi

 

Tak kala sinar mentari telah mulai redup, maka di kanan-kiri jalan akan nampak kilau lampu yang begitu indah sebagai pengganti penerangan jalan. Kondisi ini yang  kita dapat, saat akan menuju pulau Madura dengan melewati jembatan Suramadu yang baru diresmikan tahun 2009. Keberadaannya banyak memberikan akses kemudahan bagi masyarakat yang dari Surabaya mapun dari Madura. Namun, disisi lain keberadaan jembatan ini juga menimbulkan persoalan karena banyak masyarakat yang pada dulunya menggantungkan hidupnya terhadap transportasi penyeberangan laut, kemudian harus beralih profesi.

Inilah gambaran keadaan dari kehidupan manusia yang selalu bergelut dengan kelebihan dan kekurangan. Namun, bagi masyarakat Madura dengan adanya jembatan itu akan membuat pulau yang terpisahkan dengan jawa ini akan semakin dekat dan mampu memberikan dampak positif. Karena Madura sebuah pulau yang kaya akan budaya dan seni yang dapat dinikmati oleh para wisatawan.

Pulau ini biasa disebut juga dengan pulau seribu masjid. Alasannya saking banyaknya jumlah masjid yang ada dengan dukungan mayoritas masyarakatnya Bergama islam. Ini dapat kita lihat dengan mata telanjang saat menyusuri jalan-jalan yang ada. Selain dikenal dengan pulau seribu masjid, Madura juga terkenal dengan bahasa khasnya yaitu Madura. Walapun bahasa ini juga banyak digunakan di masyarakat pesisir Pantai Utara Jawa Timur.

Setelah melintasi jembatan Suramadu, maka kita akan sampai di kabupaten Bangkalan, selain tiga kabupaten yang lain, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang. Namun secara keselurahan ada beberapa kekayaan  budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya. Misalnya saja, senjata celurit yang telah menjadi senjata masyarakat dalam banyak melakukan aktivitas sehari-hari.

Dalam sejarahnya celurit sebagai senjata yang digunakan oleh Pak Sakerah dalam keseharian. Karena pada masa Cakraningrat, Penambahan Senopati, dan Joko Tole tidak mengenal dengan senjata ini. Jadi kalau kita dapat runtut kebelakang kelahirannnya itu pada masa penjajahan Belanda. Senjata ini digunakan oleh Pak Sakerah dalam keseharian untuk mengawasi kebun tebu. Celurit memiliki makna yang cukup mendalam sebagai bentuk perlawan rakyat jelata.

Kemudian terdapat karapan sapi, sebuah budaya yang terawat hingga sekarang oleh masayarakat Madura. Sedangkan sejarah karapan sapi sebagai salah satu cara untuk bercocok tanam. Sebab kondisi tanah yang gersang dan tandus mengakibatkan masyarakat berganti mata pencarian dari petani menjadi nelayan yang hidup di pesisir. Dan untuk masyarakat yang lain itu dengan memelihara sapi. Dengan keadaan yang demikian seorang ulama asal Sumenep Syeh Achmad Baidawi memberikan gagasan untuk bisa mengelola tanah agar bisa untuk tanam dengan membajak sawah dengan dua bambu ditarik sapi.

Baru untuk mendapatkan kualitas sapi yang baik dengan melombakannya. Sehingga kebiasaan ini menjadi sebuah budaya yang tetap terpelihara sampai sekarang. Sedangkan kegiataan karapan sapi diadakan itu setelah masa panen habis dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena lomba diiringi musik saronen.

Kekayaan budaya ini memberikan kita bahwa Madura menjadi salah satu wilayah yang kaya akan budaya. Meskipun pada waktu sekarang ini sering terdapat konflik agama yang mengakibatkan persatuan dari masyarakat menjadi berkurang. Sehingga banyak wisatawan yang enggan berkunjung karena konflik kepanjangan itu. Oleh sebabnya diperlukan rasa persataun dalam perbedaan untuk dapat hidup bersama.

Sumber: Forum.viva.co.id, dan kebudayaanindonesia.net

Leave a Reply