Irma Shita Arlyza – Penemu Spesies Baru Ikan Pari (Himantura tutul)

Tokoh Ilmuwan

104744_irmashitaarlizalipi

Dana riset minim, persaingan dengan periset asing, kesabaran menemukan sampel harus dilalui Irma Shita Arlyza untuk menemukan spesies baru ikan pari. Setelah 6 tahun, pengorbanannya membuahkan hasil namun Irma malah tak mau namanya diabadikan pada spesies temuannya itu yang akhirnya diberi nama latin Himantura tutul.

Padahal Irma menjadi orang pertama di dunia yang menemukan spesies baru ikan bersayap ini. Irma menceritakan meski kurang mendapat dukungan dana dari pemerintah, peneliti molekuler ikan pari dari Pusat Penelitian Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini tidak menyerah.

Penasaran dan yakin bisa meriset untuk hasil yang baru, dia memasang strategi buat dana riset dasar terkait ikan pari. Dengan fotocopy-an proposal yang banyak pada 2006, Irma mengajukan permohonan bantuan dana ke berbagai relasinya.

Saat itu, diprediksi Irma memerlukan dana sekitar Rp 300 juta untuk biaya survei lokasi hingga analisis molekuler.

“Pas saat itu orang asing yang lebih banyak share ketimbang lokal. Tapi, saya juga pilih-pilih orang asingnya,” kata Irma saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/4).

Alasan fokus meneliti pari tutul karena menurutnya hewan ini memiliki keunikan tersendiri. Selain corak kulit seperti hewan darat yaitu macan tutul, ikan pari ini termasuk spesies yang langka karena sulit ditemukan. Perairan Zanzibar di sebelah timur pesisir Afrika diduga menjadi lokasi lain pari tutul kecil ini.

Di perairan Indonesia sendiri ditaksir ada empat lokasi habitat pari tutul kecil yaitu di antaranya perairan Selat Sunda dan Selatan Jawa. Namun, jumlah populasinya belum bisa dipastikan

“Pertama empat ekor, terus tambah jadi 29. Mungkin jumlah ini masih bisa bertambah lagi,” ujar perempuan kelahiran Deli Serdang, 30 Juli 1974 itu.

Irma menceritakan awal melakukan riset dengan survei langsung mendatangi kawasan perairan di daerah Batang, Jawa Tengah. Daerah perairan ini dinilai memiliki eksploitasi yang tinggi terhadap penangkapan ikan laut. Untuk mencari sampel ikan pari diperlukan kesabaran karena prosesnya cukup lama. Namun, akhirnya kesabaran Irma membuahkan hasil. Dia menemukan sampel yang cocok di tempat pendaratan ikan. Setelah itu, dia melakukan riset berbagai tahapan.

Untuk memastikan spesies baru, perempuan berkurudung ini dan tim risetnya melakukan pendekatan molekuler dengan analisis DNA sequencing. Analisis ini merupakan cara untuk menentukan urutan gen yaitu nukleotida – arginin (A), sitosin (C), guanin (G), timin (T) pada molekul DNA. Setelah diteliti berkali-kali, dapat diyakini kalau Himantura tutul merupakan varietas ikan pari baru.

“Sebenarnya enggak nyangka bisa temuin spesies baru ini. Orang awam mungkin sulit membedakan karena coraknya sama tutul juga. Tapi, ini lebih bervariasi dengan tutul kecil yang banyak,” sebut istri dari Taslim Arifin ini.

Meski pertengahan 2008 sudah memastikan kalau himantura tutul adalah spesies baru, Irma perlu proses untuk pengakuan penemuannya. Selain itu, tarik ulur pemberian nama sebagai penemu pertama juga memakan waktu lama. Saat itu, dia berupaya lokasi penemuan bisa menjadi nama ikan ini.

Ada beberapa pihak mengusulkan Irma menggunakan namanya sendiri untuk ikan yang ditemukan. Namun, dia mengaku tidak berminat. Akhirnya setelah proses tarik ulur yang memakan waktu hingga 2012, nama disepakati menggunakan nama tutul. Pilihan kata tutul karena mewakili nama Indonesia.

“Itulah peneliti LIPI yang low profile. Yang penting ada kata tutulnya juga tahu itu dari Indonesia,” kata perempuan yang hobi traveling ini.

Namun, sayangnya walaupun berprestasi di dunia penelitian, Irma kurang mendapat respon positif dari pemerintah. Bahkan, di pertengahan 2013, beberapa media massa di Prancis sudah mempublikasikan penemuannya terlebih dulu. Publikasi di Prancis bisa didapatkan karena bantuan dari rekannya yang juga seorang peneliti. Padahal, diakuinya sebelum melakukan tes analisis molekuler, Irma mendapat kompetitor peneliti dari Australia dan Malaysia. Kedua peneliti dari negara tersebut juga ingin meriset adanya jenis ikan pari tutul terbaru.

“Bedanya mereka itu enggak berani tes molekuler. Karena ini basic saya, ya sudah diberanikan saja,” sebut doktor jurusan biosains hewan dari Institut Pertanian Bogor ini.

Kemudian ke depannya, Irma berharap ada secercah harapan agar pemerintah lebih memperhatikan dunia pengembangan penelitian di dalam negeri. Menurut dia, persoalan penelitian masih terhambat dengan anggaran yang minim. Dengan anggaran dana riset yang cukup, dia meyakini sumber daya manusia Indonesia bisa bersaing dengan kompetitor
peneliti dari luar negeri. Selama ini, kelemahan peneliti di dalam negeri karena terbatasnya anggaran yang disediakan pemerintah.

“Jangan sampai peneliti Indonesia banyak yang mencari dana dari luar negeri. Karena kalau salah pilih, ada kepentingan pihak asing yang justru merugikan negara kita sendiri,” ungkapnya.

referensi: http://news.detik.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *