Dr. Joe Hin Tjio Sang Penemu 23 Kromosom Manusia

Dr. Joe Hin Tjio

Mungkin orang ini bagi bangsanya sendiri banyak yang tidak mengenalnya karena namanya tidak sebesar nama-nama ilmuwan dunia. Namun, kita tidak tahu bahwa dia adalah ilmuwan yang telah menemukan bahwa kromosom manusia itu berjumlah 23. Hal ini, membuat sebuah sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan. Beliau adalah orang Indonesia kelahiran Jawa pada tanggal 2 November 1919 yang masa hidupnya banyak dihabiskan di Amerika dan lebih dikenal sebagai ahli Sitogenetika.

Riwayat pendidikan beliau itu dimulai dengan masa pendudukan Belanda yang pada waktu itu mengharuskan muridnya untuk mampu menguasai beberapa bahasa asing. Dimulai dengan bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Inggris, dan Indonesia. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke sekolah ilmu pertanian Bogor yang waktu sekarang lebih dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada waktu belajar di IPB Tjio berfokus kepada tanaman hibrida yang tahan akan penyakit.

Namun perjalanan kehidupannya tidak berjalan dengan baik, alasannya pada waktu penjajahan Jepang beliau harus meringkuk di bui selama 3 tahun. Setelah keluar bebas beliau mengikuti pelayaran palang merah dan berlabuh di negara Belanda. Di Belanda ini sebagai titik balik dalam perjalanan ilmuwan ini untuk dapat melanjutkan pekerjaanya di bidang pemuliaan tanaman (plant breeding) di kota Royal Denis Academy, Copenhagen selama 6 bulan.

Pada tahun 1948-1959, Tjio mendapatkan kesempatan dari pemerintah Spanyol untuk bekerja pada program pengembangan tanaman mereka. Dia mengepalai penelitian sitogenetika di Zaragoza dan pada setiap masa liburan, Tjio pergi ke Universitas Lund, Swedia, di mana ia memulai kerjasama untuk mempelajari jaringan sel mamalia dengan Institute of Genetics yang dikepalai Albert Levan. Disinila tjio bertemu dengan seorang ilmuwan yang bernama Inga Bjorg Arna Bildsfell ahli botani dan geolgi yang akhirnya menjadi istrinya dan melahirkan satu orang anak bernama Yu-Hin-Tjio.

Pada  Pada 22 Desember 1955, Joe menghasilkan suatu penemuan secara kebetulan ketika dia sedang memisahkan kromosom dari inti sel (nukleus) sejumlah sel. Dia mencoba mengembangkan suatu teknik untuk memisahkan kromosom di preparat (slide) kaca. Ketika preparat tersebut diamati di bawah mikroskop, dia menemukan hasil yang mengejutkan, yaitu terdapat 46 kromosom (23 pasang) pada jaringan embrionik paru-paru manusia. Joe kemudian menuliskan temuannya dalam Scandinavian journal Hereditas, pada 26 January 1956. Di masa itu, merupakan suatu kewajiban di Eropa untuk menuliskan nama kepala lab sebagai penulis utama sebagai pengakuan/penghormatan atas bimbingan dan dukungan yang diberikan lab tersebut, namun Tjio menolak untuk melakukannya. Dia mengancam akan membuang karyanya bila tidak ditempatkan sebagai penulis utama pada jurnal temuan tersebut hingga akhirnya nama Tjio tercantum sebagai penulis utama (first author), sedangkan Albert Levan sebagai penulis pendamping (co-author).

Pasca penemuannya itu Tjio banyak mendapatkan tawaran memberikan kuliah umum di banyak belahan dunia. Baru sekitar tahun 1956 Tjio mendapat tawaran untuk pindah dan bekerja ke Amerika di Herman Muller seorang ilmuwan yang mendapat penghargaan nobel pada tahun. Akan tetapi kepindahan itu baru Tjio lakukan pada tahun 1957 dan bekerja di universitas Colorado. Dampak kepindahannya ini membuat pengembangan Ilmunya semakin pesat yang ini dibuktikan dengan penghargaan  International Prize Award winner dengan penemuannya dalam bidang keterbelakangan mental. Pemberian hadian ini langsung dilakukan oleh presiden Josep F. Kennedy, Jr yang pada waktu itu sebagai presiden Amerika Serikat. Dan Tjio pada 27 November 2001 pada usia 92 tahun tutup usia.

Sumber: nytimes.com, sciecebiotech.net.

Leave a Reply