IPAG60 – pengubah air gambut menjadi layak konsumsi

Teknologi

KRISIS AIR BERSIH MELANDA DUNIA. Indonesia, negara yang terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah, juga termasuk yang mengalami hal serupa. Berapa banyak penduduk Indonesia saat ini yang bisa mendapatkan akses air bersih? Tidak banyak. Di kota-kota besar, banyak warga masih memakai air sungai untuk kehidupan sehari-hari. Di daerah-daerah pedalaman, daerah pemekaran, dan lainnya pun demikian, air bersih semakin sulit diperoleh.
Pengalaman Ignatius Dwi Atma Sutapa sebagai peneliti limnologi Lembaga Ilmu  Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat berada di Kabupaten Katingan, Kalimantan  Tengah, pada 2003, dari hulu sampai hilir sepanjang Sungai Katingan, warga tidak pernah mendapatkan akses air bersih. Sepanjang hidup mereka, turun-temurun memakai air gambut untuk mandi, minum, dan sanitasi.

gambut“Masalah air bersih sangat serius di Indonesia. Apalagi salah satu tujuan Millennium Development Goals (MDGs) tentang proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak serta sanitasi harus dipenuhi. Saya khawatir ini bisa gagal bila tidak diantisi- pasi,” kata Sutapa. Air gambut yang ada di Kabupaten Katingan ini berwarna hitam kecokelatan. Berdasarkan penelitian, air gambut tersebut mengandung senyawa organik trihalometan yang bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Logam besi dan mangan dalam kadar tinggi juga terkandung dalam air gambut itu.

Bila dikonsumsi dalam jangka panjang, niscaya akan mengganggu kesehatan.
Hal itu sudah terbukti dengan kondisi kesehatan fisik warga di Kabupaten Katingan. Mayoritas warga usia  dewasa sudah memakai gigi  palsu karena tingkat keasaman tinggi menyebabkan gigi mudah tanggal.  Selain itu, di antara  mereka juga banyak yang  mengalami iritasi kulit dan gangguan metabolisme tubuh.

Tidak hanya di Katingan, di daerah lain seperti Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, pun dijumpai kasus serupa. Mayoritas warga mengalami iritasi kulit, gangguan metabolisme, dan memakai gigi palsu. Luas lahan gambut di Sumatra Selatan merupakan yang terbesar ketiga di Indonesia. Warga masih sulit mengakses air bersih. Saat ini PDAM setempat baru bisa melayani 40% warga. Sisanya membeli air bersih dengan harga cukup mahal, sekitar Rp6.000 per galon. Ada juga penduduk yang memanfaatkan air sungai yang mengandung zat berbahaya tersebut.

Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akhirnya merancang inovasi teknologi Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG) dengan peneliti utamanya Ignatius Dwi Atma Sutapa. Teknologi IPAG berfungsi mengolah air gam- but menjadi air layak konsumsi sesuai standar yang disyaratkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010. Air layak konsumsi harus memenuhi syarat tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.

gambut2

IPAG60 Untuk menghasilkan air gambut menjadi air layak konsumsi diperlukan tiga tahap- an, yaitu menetralkan keasaman air, menghilangkan warna dan senyawa lain, serta  memisahkan partikulat. Teknologi IPAG buatan LIPI diberi nama IPAG60, yang mampu memproduksi air bersih 60 liter per hari. Di samping itu, satu IPAG60 mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk 100 rumah tangga.

Cara kerja IPAG60 ini pada mulanya harus menetralkan keasaman air. Air gambut memiliki derajat keasaman (pH) 2,7-4, sedangkan pH netral ialah 7. Untuk menjadi netral, air gambut harus diolah melalui sejumlah tahapan, meliputi koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi, netralisasi, dan disinfektasi.

IPAG60 mengolah air gambut dengan mengendapkan (koagulasi), terutama  kandungan alum sulfat. Endapan tersebut ditampung dalam bak sedimentasi, kemudian  disaring lagi dengan menggunakan pasir silika dan antrasit serta air. Diameter pasir silika dan antrasit sebesar 0,6-2 milimeter. Dari proses penyaringan secara alamiah tersebut ter- bentuk biofilm mikroorganisme yang mampu mengurai polutan organik air gambut. Langkah berikutnya berupa dekolorisasi atau menghilangkan bau, warna, dan rasa. Untuk menghilangkan ketiga hal itu digunakan penyaring karbon aktif yang berukuran relatif kecil. Dalam proses dekolorisasi ini, partikel karbon aktif akan menyerap warna air gambut.

gambut3Setelah warna gambut mulai menghilang, dilanjutkan proses netralisasi keasaman air dengan memakai abu soda. Adapun kalsium hipoklorit digunakan untuk membunuh bakteri patogen di dalam air . Dengan melalui beberapa tahapan tersebut, air gambut yang semula hitam, berbau, dan berasa asam menjadi air bening, tidak berasa, dan tidak berbau. Air hasil produksi IPAG60 ini kemudian dibawa ke laboratorium Pusat Penelitian  Limnologi LIPI di Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat, untuk dites apa- kah masih mengandung zat berbahaya, kandungan pH-nya sudah sesuai standar atau  belum, dan lainnya.
“Hasilnya memang air gambut tersebut sudah menjadi air tawar layak konsumsi karena tidak berbau, berasa, dan berwarna. Dan, ini sesuai permintaan masyarakat di Katingan, bahwa mereka menginginkan teknologi untuk mengubah air gambut menjadi air tawar dengan teknologi yang sederhana, yakni tanpa listrik besar, tidak menggunakan alat-alat canggih yang susah dioperasikan, termasuk suku cadangnya mudah dicari,” terang Sutapa.    Alat itu dirancang serta didesain pada 2009, dan disesuaikan dengan kondisi di   lapangan. Pada awalnya, proses pengujian air gambut memakai alat-alat  untuk  pengolahan air tawar karena belum ada alat atau teknologi yang diciptakan LIPI  khusus untuk air gambut.

Pengujiannya pun bukan menggunakan air gambut dari Sumatra atau Kalimantan, melainkan air yang diambil di Cibinong kemudian dicampur dengan daun sukun  supaya mendekati kandungan air gambut. Awalnya Puslit Limnologi LIPI membuat IPAG30, yang memiliki kemampuan memproduksi air bersih 30 liter per menit.  Kemudian  ditingkatkan menjadi IPAG60 dengan kemampuan produksi air tawar 60 liter per  menit.

Hasil uji alat ini ternyata cukup sukses sehingga bisa dipraktikkan di daerah yang membutuhkan. Harga IPAG60 cukup terjangkau, yakni sekitar Rp750 juta per set. Apalagi perawatan dan cara pemakaian alat ini pun sangat mudah. Selain memasang alat, Puslit Limnologi LIPI juga memberikan pelatihan kepada  warga bagaimana cara mengoperasikan alat tersebut. Pelatihan selama satu minggu di  Kabupaten Katingan telah diikuti 14 orang. Mereka menjadi operator sekaligus perawat alat-alat tersebut. Bahkan kini ke-14 operator tersebut sudah mampu mem- produksi air bersih.

LIPI telah menghasilkan tiga unit IPAG60, dua dipasang di Kabupaten Katingan,  Kalimantan Tengah, dan satu lagi di Riau bekerja sama dengan PT Sinar Mas. Satu lagi direncanakan dipasang di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di wilayah yang 90% airnya berupa air gambut itu, Pemkab Kubu Raya akan memakai IPAG60 untuk PDAM setempat.

Metode pengolahan air gambut beserta kelengkapan peralatannya sudah dipatenkan ke Direktorat Jenderal HKI Kemenkum dan HAM. Hak paten tersebut mencakup pengolahan air gambut, serta kombinasi proses netralisasi, pembubuhan karbon aktif, dan koagulasi. IPAG60 merupakan pengolah air gambut terbesar di Indonesia saat ini. Puslit  Limnologi LIPI berencana membuat alat pengolah yang lebih kecil dan mudah dibawa.

referensi
– http://www.ristek.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *